Pindah Ibukota ke Makariki Maluku Pasti Maju * Kaum Amtenar Berargumen Ambon Kota Sejarah | Tribun-Maluku.com | Berita dan Informasi Seputar Maluku Terkini
Home » » Pindah Ibukota ke Makariki Maluku Pasti Maju * Kaum Amtenar Berargumen Ambon Kota Sejarah

Pindah Ibukota ke Makariki Maluku Pasti Maju * Kaum Amtenar Berargumen Ambon Kota Sejarah

Jumat, 04 Oktober 2013 | 5:54 AM

AMBON Tribun-Maluku.Com, Masyarakat Maluku harus bangga bahwa ibu kota provinsi Maluku sudah dialihkan dari pulau Ambon ke pulau Seram, yang besar dan kaya akan sumber daya alam sehingga akses ekonomi akan lebih terbuka ketimbang  tetap di pulau Ambon yang terus dilanda bencana.banjir dan tanah longsor saat musim hujan.

Kelompok amtenar maupun  anggota DPRD Maluku diminta untuk berhenti mempolemikan pemindahan ibu kota provinsi ke pulau Seram kalau cuma karena kepentingan politik sesaat yaitu pemilihan legislatif 2014 untuk meraih suara masyarakat di kota Ambon. 

Rata-rata kelompok yang tidak setuju pemindahan ibu kota provinsi Maluku ke pulau Seram tidak mempunyai argumentasi yang kuat dan masuk akal. Kelompok amtenar misalnya hanya melihat Ambon sebatas kota yang memiliki latar belakang sejarah. 

Hampir pasti beberapa anggota DPRD Maluku yang terus mempolemikkan pemindahan ibu kota provinsi ke Makariki, adalah calon anggota legislative dari daerah pemilihan Kota Ambon. Mereka takut kalau setuju kota provinsi di pindahkan ke Seram akan membuat masyarakat di Ambon tidak memberikan suara bagi mereka dalam pemilihan legislatif 2014 nanti.


Lalu apa tanggapan beberapa pengamat sosial ekonomi di daereah ini soal pemindahan ibu kota provinsi? Mereka menilai pemindahan ibu kota provinsi ke dataran Makariki pulau Seram adalah solusi yang tepat untuk mencairkan persoalan keteringgalan Maluku. Abraham Orno, SE, salah satu pengamat masalah ekonomi dan sosial menilai, pemindahan ibu kota provinsi dari kota Ambon ke pulau Seram adalah salah satu solusi untuk membawa Maluku keluar dari ketertinggalan.

Menurutnya, kota Ambon saat ini tidak bisa dikembangkan lagi. kesempatan berusaha oleh masyarakat sangat kecil bahkan tidak ada sama sekali karena terbatasnya lahan serta mahalnya harga tanah di kota Ambon, membuat kalangan usahawan enggan menanam investasi.

 Selain itu harga ikan dan sayuran serta makanan kebun berupa umbi-umbian sangat mahal karena semuanya didatangkan dari luar pulau Ambon yang sudah tentu memerlukan transportasi yang mahal.


Lain halnya kata dia, jika kota provinsi dipindahkan ke Seram, akses ekonomi akan lebih terbuka cepat karena di pulau Seram memiliki lahan pertanian dan perkebunan yang luas dan subur, belum lagi perikanan dan pertambangan sehingga investasi akan lebih banyak diarahkan kesana. Dan itu berarti lapangan kerja akan terbuka lebar sehingga pengangguran yang bertumpuk saat ini di Ambon dapat dikurangi.    


Sementara itu salah satu pengamat sosial yang juga mantan camat, Oth Ely mengatakan sangat tidak setuju kalau orang yang tidak ingin memindahkan ibu kota provinsi ke Makariki cuma dengan alasan Ambon kota sejarah. “ Apa artinya kota sejarah lalu kita tetap seperti dahulu tidak berkembang dan maju?  Saya kira itu pendapat paling ngaur dan paling bodoh. “Kalau kota sejarah itu seperti Yogjakarta, Bali karena kota-kota itu punya identitas kota sejarah. Kalau orang mulai masuk kota Yogjakarta, langsung orang terinspirasi oh iya memang ini kota sejarah. Tetapi kota Ambon, sejarah apanya? Jalan-jalan saja tidak lebih dari sebuah kota kecamatan. Kalau kota sejarah, di tengah kota Ambon harus ada hutan kota dan hutan kota itu kita tanam tanaman-tanaman ciri khas Maluku  seperti cengkeh, pala, sagu, gandaria, durian, salak dan lain-lain sehingga dari hutan kota itu, tergambar jelas indentitas Maluku sebagai kota rempah-rempah yang sudah dikenal dari jaman Portugis.

Tapi bagaimana hal itu bisa dilakukan dengan kota Ambon yang kecil begini? Pusat kota saja tidak lebih dari 10 hektar. Jadi kalau kota Provinsi di Makariki, pusat kota itu bisa lebih dari 500 hektar itu berarti luas kota provinsi yang baru di Makariki seperti dari pantai Hukurila sampai di dermaga pelabuhan Hitu atau dari pelabuhan Hunimoa sampai ke Bandara Pattimura. Kalau itu baru Maluku bisa tepuk dada. Tetapi kalau di Ambon, jika ada tamu asing yang datang, kita jadi malu.   


Kedudukan kota provinsi di Ambon ini juga pernah di komentari sejumlah anggota DPR-RI sewaktu berkunjung ke Ambon beberapa tahun lalu. Mereka menilai Maluku tidak akan maju kalau ibu kota provinsi berada di pulau kecil.

Ely juga memberikan apresiasi yang tinggi bagi mantan gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu dan Ketua DPRD Maluku Fatani Sohilauw bersama beberapa anggota DPRD yang dengan pemikiran baik serta mencintai rakyat Maluku sudah mencanangkan ibu kota provinsi di Makariki. “Saya kira itu  pemimpin yang berhikmat

 Kita lihat setiap tahun musibah banjir dan longsor di kota Ambon ini sudah memakan korban jiwa yang terlalu banyak dan harta bendah. Apakah kita terus tinggal dengan pikiran bodoh untuk tetap mempertahankan Ambon menjadi kota provinsi? Saya mau bilang pemimpin seperti Ralahalu dan Sohilauw itu pemimpin yang berhikmat. Mereka mendapat hikmat untuk menetapkan sebuah kota provinsi yang punya masa depan bagi generasi Maluku. 

Pemimpin itu harus berpikir bersih dan  membuat sesuatu untuk anak cucu di kemudian hari bukan untuk dirinya yang menikmati saja,” kata Ely. (TM.Com)
Pasang Iklan di Tribun-Maluku.com
Like this article :
Komentar
0 Komentar

0komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !


Pasang Iklan Disini

 
Terima Kasih Sudah Berkunjung di Tribun Maluku