Perang Tanpa Bentuk Bernama Narkotika

R.N. Tuasikal, SKM
NARKOTIKA merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang kerap dijadikan alat perang tanpa bentuk atau Proxy War. Narkotika ini sudah mengancam dunia dan bisa digunakan sebagai salah satu senjata dalam Proxy War untuk melumpuhkan kekuatan bangsa. Narkoba menjadi salah satu proxy war yang paling membahayakan dan menjadi bisnis terbesar di Indonesia.

Indonesia merupakan negara yang menjadi salah satu sasaran terbesar peredaran gelap narkotika. Termasuk, pembuatan prekursor alias bahan kimia narkotika yang dikendalikan jaringan nasional atau internasional. Sudah sewajarnya jika Pemerintah Indonesia mengambil langkah tegas dalam menghadapi bentuk perang modern tersebut.

Penyalahgunaan narkoba di Indonesia memiliki keterkaitan strategi "proxy war" (perang proxy). Kondisi ini untuk merusak generasi muda Indonesia sehingga bangsa ini di masa depan tidak memiliki generasi berkualitas tinggi. Perederan nakoba di Indonesia sudah merajalela dengan berbagai bentuk dan sampai ke daerah perbatasan serta pelosok pedalaman.

Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat prevalensi yang tinggi memang merupakan pasar yang sangat menarik dan menguntungkan bagi bandar narkoba yang umumnya merupakan sindikat internasional. Jika di akhir abad ke-20 Indonesia masih berstatus sebagai negara transit, maka kini Indonesia sudah beralih menjadi negara konsumen.

Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan, pemakai narkoba mengalami kenaikan dari 1,5 persen penduduk pada tahun 2005 menjadi 2,6 persen di tahun 2013 dan mencapai 2,8 persen di tahun 2015. Artinya lebih dari 5,1 juta penduduk Indonesia menyalahgunakan narkoba. Angka kematian tiap tahun akibat narkoba berada pada kisaran 15.000 orang.

Fakta-fakta tersebut sangat memprihatinkan dan dapat menghancurkan generasi muda untuk jangka panjang. Karena telah menyerang secara masif mulai dari kalangan eksekutif muda, pejabat negara sampai dengan anak usia sekolah. Melalui konspirasi internasional, generasi muda Indonesia tanpa sadar dapat dihancurkan tanpa harus menggunakan kekuatan bersenjata. Aparat Pemerintah pun sampai saat ini masih kewalahan untuk mencegah dan menguranginya.

Penyebaran narkoba di Indonesia sudah sampai taraf menjadi instrumen perang modern (proxy war) oleh negara asing. Tujuannya tak lain menghancurkan generasi muda bangsa.  BNN mencatat, ada 11 negara yang memasok narkotika ke Indonesia dengan berbagai macam jenis. Di antaranya datang dari Eropa, Timur Tengah, Afrika Barat, China, Malaysia, Singapura, Iran dan Pakistan.

Transit terbesar di Malaysia dan Singapura. Fakta perkembangan jaringan, terdapat 72 jaringan narkoba yang aktif beroperasi di Nusantara. Selain itu, ditemukan sudah 800 narkotika jenis baru. Sedangkan yang masuk ke Indonesia 60 jenis di antaranya. Namun, hukum di dalam negeri bisa menindak 43 jenis. Tidak semua kepentingan peredaran narkoba dari 72 jaringan ini adalah uang dan perdagangan. Karena mereka memang dikirim demi kepentingan negara-negara tertentu yang memang menginginkan kehancuran Indonesia.

Setiap bulan BNN, POLRI dan aparat penegak hukum lainnya menyita paling sedikit 100 kilogram jenis sabu. Belum termasuk jenis narkotika lainnya. Kalau kita nilai uangnya, obral sabu di Indonesia satu kilo Rp.1 miliar. Kalau dimusnahkan 100 kg, berarti ada ratusan miliar yang dibakar. Penyelamatannya bukan uang, tetapi manusia. Dan nyawa manusia lebih berharga, enggak bisa dinilai dengan uang. Itu yang harus kita pahami.

Dari peredaran narkoba ke Indonesia, satu jaringan bisa mengeruk keuntungan Rp.1 triliun. Berdasarkan penelusuran BNN, terdapat 72 jaringan. Alhasil, Rp.72 triliun yang bisa diboyong oleh para sindikat tersebut. Dan semua didapatkan pasti terjual habis.

Cara mengurangi peredaran narkoba di Indonesia adalah pertama-tama menekankan tindakan preventif guna memberi kekebalan kepada masyarakat. Tujuannya, agar masyarakat kebal terhadap penyalahgunaan narkotika. Untuk strategi supply reduction, difokuskan pada penegakan hukum yang tegas dan terukur agar sindikat narkotika jera.

Kepala Badan Narkotika Nasiona (BNN), Budi Waseso menyatakan bahwa jaringan narkoba di Indonesia tidak semuanya murni mencari uang, tapi digunakan asing sebagai perang terselubung atau proxy war untuk menghancurkan bangsa. "Dari 72 jaringan tidak semua berpikir dagang. Karena mereka pasti digunakan oleh negara-negara tertentu untuk kehancuran Indonesia. Salah satunya proxy war,”kata Budi saat acara coffee morning dengan Ketua DPR RI, Setya Novanto di Gedung DPR RI Jakarta.

Menurut Budi, dari 72 jaringan yang sekarang aktif beroperasi di Indonesia, pihaknya tidak bisa memantau tempat mereka memproduksi atau menyimpan barang haram itu. "Kita tidak bisa tahu dimana barang ini disimpan. Ketika ada yang mesan baru bisa kita telisik dan telusuri. Di situ kita ambil dan sita,”kata Buwas, sapaan Budi Waseso.

Ia menambahkan, sampai hari ini ada 11 negara yang mensuplai narkotika ke Indonesia dengan berbagai jenis. Saat ini, terdapat 800 jenis narkotika di dunia, akan tetapi baru 60 yang beredar luas di kalangan umum. "Dan karena keterbatasan kita, terutama lab di Indonesia, hanya bisa mengusut secara hukum 43 (jenis). Tidak bisa kita tangkap secara hukum,” kata Buwas tanpa menyebut 17 jenis narkoba tersebut.

Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy mengatakan, peredaran narkotik dan obat berbahaya di Indonesia bagian dari proxy war. "Kita dihancurkan musuh dengan cara menyusupkan narkoba ke Indonesia." Indonesia adalah negara besar yang memiliki banyak penduduk. Kekuatan Indonesia tersebut dianggap bisa ditundukkan dengan narkoba. Selain itu, dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia menjadi sangat menarik bagi bandar narkoba.

Salah satu cara untuk meredamnya, kata Muhadjir, dengan memproduksi film yang mengedukasi soal bahaya penyalahgunaan narkoba. "Saya menganjurkan produksi film sebanyak mungkin sebagai media penyebaran pencegahan."

Dari segi penegakan hukum, Indonesia masih memberlakukan hukuman mati. Sebanyak 14 terpidana mati kasus narkoba masuk ke daftar eksekusi di Lembaga Pemasyarakatan Batu, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Para terpidana tersebut telah diisolasi sejak 25 Juli 2016, termasuk Freddy Budiman.

Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo juga mengingatkan kembali bahwa Indonesia saat ini tengah menghadapi bahaya proxy war atau perang asimetris. Proxy war terjadi di Indonesia melalui beberapa cara, di antaranya narkoba, konflik antar kelompok, maupun terorisme.

"Narkoba menjadi salah satu proxy war yang paling membahayakan dan menjadi bisnis terbesar di Indonesia,"kata Gatot saat mengisi kuliah umum di hadapan mahasiswa pasca sarjana Universitas Pertahanan Indonesia (Unhan) di Bogor. "Bisnis yang paling besar di negeri ini adalah bisnis narkoba, tapi itu adalah bisnis yang ilegal.

Pebisnis ilegal pasti merapat ke aparat keamanan, mencari perlindungan di situ. Bisa polisi, bisa TNI, Kejaksaan, dan Hakim. Gatot meyakini narkoba di Indonesia sudah menjadi perang candu seperti halnya yang pernah terjadi di Tiongkok sejak zaman dinasti. Ia mencatat sekitar 5,1 juta penduduk sudah menjadi penyalahguna narkoba. Sebanyak 15 ribu orang di antaranya meninggal setiap tahun.

Narkotika merupakan bagian dari proxy war, perang modern. Perang yang tidak membutuhkan senjata canggih ataupun prajurit tangguh. Perang ini menggunakan berbagai cara memenangkannya. Termasuk narkotika yang ancamannya sudah sangat besar dan mengkontaminasi berbagai kalangan. TNI, Polri, Kejaksaan sudah terkontaminasi bahkan terlibat dalam jaringan.

Karena itu, dibutuhkan kerja keras dan kerja cerdas seluruh instansi terkait dalam upaya pemberantasan narkotika dengan didukung oleh semua elemen bangsa, mulai dari masyarakat, pemuka agama dan lembaga swadaya masyarakat. Kejahatan ini harus diberantas dan ditangani secara komprehensif dan menyeluruh.(Oleh : R.N. Tuasikal, SKM; Staf Seksi Dayamas Bidang P2M BNNP Maluku)
Perang Tanpa Bentuk Bernama Narkotika Reviewed by Ibek Melsasail on Kamis, November 09, 2017 Rating: 5
Facebook CommentsShowHide
Disqus CommentsLoadHide
Diberdayakan oleh Blogger.