Perempuan Millenia Berjuang Melawan Penjajahan Narkoba

Mery Makatita, SH
Andaikan Cut Nyak Dien masih hidup hingga era millennia ini, tentunya beliau akan berhenti berperang melawan kompeni dan beralih perang melawan bahaya Narkotika dan Obat/Bahan Berbahaya (Narkoba) yang telah memporak-porandakan bangsa ini.

Andaipun Raden Ajeng Kartini masih hidup, tentunya beliau akan bersedih dan mengubah pemikirannya tentang emansipasi, seraya menyerukan kaum wanita untuk menanggalkan ego mereka seperti beliau telah menanggalkan egonya sendiri, untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya yaitu menuruti keinginan orang tua untuk menikah dengan Adipati Rembang.

Bagaimana tidak, gagasan dan pemikiran cemerlang dari kedua pahlawan nasional perempuan ini tentang wanita karir dan kaum wanita, kini telah menjadi wanita kurir narkoba.

Tidak sedikit kaum perempuan yang tergiur berpenghasilan besar dengan cara yang mudah dan cepat melalui profesi sebagai pengantar barang haram itu, sebagaimana yang terjadi di Denpasar ketika jajaran Satres Narkoba Polresta menangkap kurir wanita berinisial CAC alias Ciki (28 tahun).

Adapula yang tergoda oleh life style ala millennia yang pada akhirnya memilih menjadi kurir narkoba seperti empat wanita asal Aceh yang dibekuk di salah satu kamar hotel di Medan.

Dan adapula kaum wanita yang tanpa sadar terjebak sebagai kurir narkoba disebabkan oleh keluguan dan perasaan cinta berlebihan kepada sang pacar, sebagaimana yang dialami oleh Merri Utami (MUT) ketika diciduk petugas pelayanan bea cukai di bandara Soekarno-Hatta Jakarta.

Hal ini menunjukkan bahwa sangat mudah wanita tergiur dengan rayuan, impian, cinta, tuntutan kebutuhan dan zaman, serta kontrol diri yang melebihi dari nilai-nilai perjuangan dan emansipasi wanita.

Kelemahan dan keluguan wanita itu selalu dijadikan objek empuk yang dapat dimanfaatkan oleh bandar/mafia narkotika sebagai kurir narkoba.

Sesuai data dari Kementerian Luar Negeri RI yang mengindikasikan bahwa saat ini terdapat sekitar 203 orang warga Negara Indonesia yang berada di luar negeri, terancam hukuman mati karena terpidana sebagai kurir narkoba.

Dari 203 kasus tersebut telah terselesaikan sebanyak 63 kasus. Ironisnya, mereka yang menjadi kurir narkoba yang terancam hukuman mati itu 100 persen adalah wanita.

Jumlah ini tentunya akan menggetarkan bahkan membangunkan Cut Nyak Dien dan R.A. Kartini dari kuburan mereka, untuk mewajib-militerkan kaum wanita berjuang melawan penjajahan narkoba maupun mafia narkotika.

Seperti yang telah dilakukan oleh Gorrostieta dengan norma social di Mexico serta mengambil kebijakan untuk memerangi dan membasmi narkoba maupun mafia narkoba sehingga Mexico akan berubah menjadi Negara yang Bebas Narkoba.

Kebijakan ini tentunya mendapat perlawanan keras dari mafia narkoba yang ditandai dengan berbagai upaya pembunuhannya di bulan Oktober 2009 yang menewaskan suaminya.

Tiga bulan berikutnya, para gerombolan mafia bersenjata memberondong peluru ke mobilnya, hingga akhirnya Gorrostieta harus meregang nyawa setelah disergap dan disiksa secara fisik oleh geng narkoba yang semakin merajalela di Mexico.

Perjuangan para pahlawan dan tokoh wanita itu tidaklah cukup dijadikan dongeng pengantar tidur sesaat, melainkan sebagai motivasi perjuangan untuk terus melawan dan membersihkan diri, keluarga, lingkungan serta bangsa ini dari penjajahan narkoba maupun bandar/mafia narkoba.

Paling tidak nilai-nilai perjuangan itu dapat diaplikasikan dalam lingkungan keluarga dengan mengutamakan pertumbuhan anak-anak yang bebas narkoba dan mendidik mereka menjadi generasi yang sehat dan cerdas untuk berkreasi.

Maka patutlah bagi kaum wanita untuk mencontohi perjuangan para pahlawan dan tokoh wanita dengan menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan mereka untuk tegar menghadapi segala rayuan dan tantangan hidup.

Tidaklah cukup dengan hanya mengatakan “TIDAK” kepada narkoba maupun mafia narkoba, melainkan katakan “MERDEKA” dari segala bentuk penjajahan narkoba sehingga akan menghasilkan lingkungan yang kondusif dan generasi penerus yang berkualitas, dalam kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara yang sehat dan berkembang tanpa narkoba.(Oleh : Mery Makatita, SH. Staf P2M BNNP Maluku)
Perempuan Millenia Berjuang Melawan Penjajahan Narkoba Reviewed by Ibek Melsasail on Rabu, Desember 06, 2017 Rating: 5
Facebook CommentsShowHide
Disqus CommentsLoadHide
Diberdayakan oleh Blogger.