Petani Enggan Keluarkan Biaya, Produksi Padi Rendah

 Ir. Diana Padang, M.Si
AMBON Tribun-Maluku.com- Berdasarkan data BPS Provinsi Maluku, rendahnya produksi padi dipicu oleh rendahnya produktivitas. Khusus padi sawah, rata-rata petani enggan mengeluarkan biaya tambahan untuk sarana produksi, jika ada bantuan saprodi (sarana produksi) lain oleh Pemerintah.

Bantuan tahun 2016 dan 2017 untuk mendukung upaya khusus (Upsus) Padi hanya dalam bentuk benih, harapannya petani membeli pupuk bersubsidi,"kata Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku Ir. Diana Padang, M.Si di Ambon, Rabu (28/2/2018).

Menurut Padang, akibat dari minimnya pupuk maka produktivitas 2016 hanya 4,6 Ton/Ha dan tahun 2017 menurun menjadi 4,3 Ton/Ha. Produktivitas yang dicapai tergolong rendah jika dibandingkan dengan tahun 2015 yang mencapai 5,6 Ton/Ha, ketika saat itu bantuan ke petani dalam bentuk paket lengkap yaitu benih dan pupuk.

Untuk padi lahan kering (padi ladang) produktivitasnya dari tahun 2012 sampai 2016 rata-rata 2,6 Ton/Ha, karena petani belum menggunakan sarana produksi seperti pupuk secara kontinyu.

Pengembangan padi ladang dilakukan melalui pola ladang berpindah dan sebagian besar bertujuan untuk konsumsi sendiri (pola subsisten).

Dalam jangka panjang, salah satu masalah yang dapat berpengaruh terhadap pencapaian swasembada pangan strategis di Maluku adalah, tidak adanya konsistensi antara perencanaan  dan realisasi cetak sawah.

Sesuai rencana Kementerian Pertanian, tahun 2017 Maluku dialokasikan cetak sawah seluas 4000 Ha terdiri dari Pulau Buru 3000 Ha, Maluku Tengah 500 Ha dan Seram Bagian  Timur (SBT) 500 Ha.

Luas ini sudah disetujui oleh kabupaten sentra namun, saat akan dicetak yang disetujui hanya 697 Ha terdiri dari Pulau Buru 612 Ha, Maluku Tengah 50 Ha dan SBT 35 Ha.

Ilustrasi
Dikatakan, terkait dengan peningkatan produksi pangan ke depan maka beberapa hal penting yang perlu diperhatikan yakni : Tingkat kehilangan hasil padi masih cukup tinggi yaitu rata-rata 19 persen yang terdiri dari panen, perontokan, pengeringan dan penggilingan;

Beras Maluku kebanyakan dipasarkan ke luar daerah (contoh Maluku Tengah ke Papua), padahal masih dibutuhkan di dalam daerah; Diperlukan strategi khusus untuk memacu petani agar dapat meningkatkan produksi pasca pemberlakuan UPSUS PAJALE;

Lahan yang belum memiliki irigasi sebaiknya tidak dibiarkan kosong tetapi digunakan untuk menanam padi lahan kering; Perlu adanya konsistensi antara perencanaan dan realisasi cetak sawah.

Berdasarkan hasil penelitian, Kapasitas Tukar Kation di lahan sawah Maluku umumnya rendah sehingga dibutuhkan upaya pemupukan baik organik maupun anorganik.(TM02)
Petani Enggan Keluarkan Biaya, Produksi Padi Rendah Reviewed by Ibek Melsasail on 2/28/2018 Rating: 5
Facebook CommentsShowHide
Disqus CommentsLoadHide
Diberdayakan oleh Blogger.