Momentum Pilgub, Menatap Masa Depan Maluku

pada momentum politik ini hanya ada dua hal yang harus kita lakukan. Pertama, memilih pemimpin yang ideal dan yang kedua, momentum pilgub ini harus kita jadikan sebagai langkah untuk menatap masa depan Maluku.
Oleh: Nardi Maruapey*

Saat pemerintahan orde baru yang dikenal sangat otoriter dalam segala aspek kehidupan bernegara kita runtuh dan digantikan dengan pemerintahan reformasi, kita melihat sudah ada perubahan cukup ideal yang mengarah pada kebebasan sangat serius dari kehidupan bernegara itu sendiri. Terlebih khusus pada kehidupan berdemokrasi dan berpolitik.

Rakyat telah diberikan kebebasan dalam melakukan pilihan-pilihan politiknya tanpa ada intervensi dari apapun dan dari manapun sebagai konsekuensi berdemokrasi kita. Demokrasi adalah suatu paham yang menganut keyakinan bahwa setiap warga negaranya memiliki hak dalam hal pengambilan keputusan bersama di negara tempat tinggal mereka, karena warga negara juga berhak menentukan jalan hidup mereka. Demokrasi ini memiliki prinsip "kebebasan politik yang berkeadilan".

Menurut Abraham Lincoln, presiden keenam belas Amerika Serikat tentang demokrasi, dia bilang demokrasi adalah pemerintahan suatu negara yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dan pada dasarnya rakyat adalah sekelompok warga negara yang sudah sadar akan cara-cara bernegara.

Begitu juga dengan provinsi Maluku yang akan melaksanakan pemilihan kepala daerah (pemilihan gubernur dan wakil gubernur) untuk periode lima tahun depan sebagai praktek demokrasi.

Hemat saya, pada momentum politik ini hanya ada dua hal yang harus kita lakukan. Pertama, memilih pemimpin yang ideal dan yang kedua, momentum pilgub ini harus kita jadikan sebagai langkah untuk menatap masa depan Maluku.

Memilih pemimpin
Pilkada sudah tentu adalah ajang untuk memilih pemimpin pada setiap daerah di Indonesia baik itu tingkat provinsi, kabupaten dan kota.

Perlu kita pahami secara baik bahwa pilkada bukan hanya agenda yang bersifat seremonial saja, bukan hanya ajang untuk menampilkan sosok atau figur mana yang citra paling tinggi, tanpa melihat hal-hal yang lebih subtantif dari proses itu semua.

Semakin dekat waktu pelaksanaan dari pilkada serentak ini yang dilaksanakan pada 27 Juni 2018, begitu juga dengan pilgub Maluku. Itu artinya semakin hangat wacana yang terbangun dari ruang publik.

Tugas kita selaku rakyat yang nantinya akan menentukan pilihan politiknya mengenai siapa yang pantas menjadi pemimpin daerah ini ke depan harus sudah bisa memahami pemimpin yang dimaksud dengan pemimpin ideal itu dengan baik. Agar pilihan yang nanti kita berikan itu juga cerdas dan bijak. Pilihan kita itu menentukan Maluku ini akan dinahkodai oleh siapa dan mau dibawa ke mana kita.

Secara jelas sudah ada tiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur sebagai calon pemimpin Maluku untuk satu periode (lima tahun) ke depan, yakni Said Assagaff dan Andarias Rentanubun, Murad Ismail dan Barnabas Orno, Herman Koedoeboen dan Abdullah Vanath.

Pemimpin yang baik secara sederhana adalah pemimpin yang mampu untuk memahami rakyatnya, pemimpin yang mengerti dengan kondisi daerah kita khususnya, pemimpin yang bisa memberikan dan melengkapi segala bentuk kekurangan di berbagai sektor kehidupan masyarakat kita, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan lain sebagainya.

Kalaupun pada prinsipnya momentum pilgub Maluku ini merupakan sebuah pertarungan politik dari para calon (Gubernur dan Wakil Gubernur) maka yang harus ditarungkan adalah pertarungan gagasan, visi, rekam jejak figur, bukan seperti latar belakangnya apa, kekuatan finansialnya (banyak uang atau tidak), dan masalah terkenal dan tidaknya.

Di negara-negara besar, pertarungan politik yang dimainkan adalah pertarungan gagasan, visi, bukan pencitraan.

Pertama, pemimpin itu haruslah dilihat dari gagasan-gagasannya karena dari situlah kita bisa melihat kekuatan intelektualnya dan pemikirannya secara pribadi. Kedua, dilihat dari visinya sebab kita bisa mengetahui rencana-rencananya dalam membangun suatu daerah dari segala aspek, bukan janji politiknya yang harus dilihat.

Semakin banyak janji yang dibuat maka semakin banyak pula yang nanti tidak direalisasikan. Ketiga, pemimpin yang harus dilihat juga darinya adalah rekam jejaknya (trek record) sebagai sebagai sebuah bentuk pengalamannya dalam melakukan sesuatu yang bermanfaat. Inilah sosok pemimpin yang ideal.

Dilain sisi, kita jangan lagi terus berkutat pada demokrasi yang bersifat kultus. Demokrasi kultus itu demokrasi yang masih condong melihat pada suku, ras, golongan, dan bahkan agama. Ini juga yang tidak boleh dan dilarang terjadi di demokrasi kita.

Menatap masa depan
Momentum pilgub Maluku ini selain memilih pemimpin baru, ada juga yang harus kita lihat secara baik. Menjadikan pilgub ini sebagai kesempatan untuk menatap masa depan Maluku. Inilah yang harus diprioritaskan sebagai agenda bersama seluruh stakeholder yang ada.

Pada momen ini juga mestinya komponen daerah ini hening dalam refleksi dan berkontemplasi mengenai segala hal yang menjadi permasalahan di daerah ini (Maluku). Melalui renungan-renungan dan refleksi-refleksi itulah diharapkan dapat ditemukan sebuah landasan untuk meletakkan visi dan makna baru daerah ke depan secara khusus dan bangsa ke depan secara umum.

Setidaknya dari perenungan dan refleksi kemudian nantinya kita bisa menemukan kekurangan dan kelemahan kita sebagai suatu daerah.

Lalu bagaimana cara menatap masa depan daerah ini? Kita lihat dulu problem daerah kita. Masalah yang sangat vital yang ada di Maluku sampai saat ini adalah masalah kemiskinan, pengangguran, kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan.

Pertama, Maluku memiliki tingkat kemiskinan dengan persentase 27,70 persen dari total penduduk sekitar 1,5 juta dan menduduki urutan ke-3 dari daerah termiskin di Indonesia setelah Papua dan Papua Barat (Sumber: m.kaskus.co.id).

Kedua, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 7,04 juta orang atau naik 10 ribu orang dari bulan sebelumnya yang tercatat 7,03 juta. Maluku menjadi daerah dengan tingkat pengangguran tertinggi (TPT) dengan persentase 9,29 persen.

Ketiga, mengenai kesejahteraan diketahui untuk mewujudkan rakyat sejahtera membutuhkan perjuangan panjang dan serius, sebab realitas yang terjadi selama ini adalah belum tercapainya kesejahteraan pada seluruh. Bicara sejahtera itu harus dirasakan secara bersama (kolektif) bukan dirasakan secara individu. Ini yang harus dimaknai dengan baik oleh pemimpin kita.

Keempat, menyangkut kesehatan dan pendidikan kita Maluku juga masih sangat memprihatinkan. Apalagi tentang pendidikan kita yang tujuannya untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, dan menciptkan SDM yang berkualitas masih sangat tertinggal sekali jikalau kita bandingkan dengan daerah-daerah lain.

Di antara 33 propinsi yang ada di Indonesia, pendidikan di Maluku menempati urutan ke 27 se-Indonesia. (Sumber: Pondok Pesantren Hidayatus Saalikin).

Dari permasalahan diatas kiranya kita bisa menjadikannya sebagai bahan evaluasi bersama demi menjadikan Maluku lebih baik ke depan. Untuk menatap masa depan Maluku, maka harus ada langkah-langkah strategis yang dilakukan oleh semua pemangku kepentingan (staceholder) di daerah ini.

Begitu banyak potensi dan aset negeri ini yang harus di kelola secara matang dan baik demi kepentingan Maluku dan seluruh masyarakatnya, seperti potensi pariwisata, potensi laut, dan SDA yang sangat melimpah.

Harus ada juga peningkatan iklim investasi dan pengembangan usaha agar investor bisa masuk ke Maluku. Dengan adanya investasi bisa menciptakan lapangan kerja, otomatis akan mengurangi pengangguran dan pada hilirnya dapat mengurangi kemiskinan. Asalkan anak negeri yang diprioritaskan.

Hal ini sangat membutuhkan SDM yang memadai, yang paling terpenting dari itu juga adalah segala bentuk permasalahan yang terkait dengan kemiskinan, pengangguran, kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan dapat terwujud melalui momentum pilgub kali ini.

* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Darussalam Ambon dan Pengurus HMI Cabang Ambon
Momentum Pilgub, Menatap Masa Depan Maluku Reviewed by Tribun Maluku on 5/16/2018 Rating: 5
Facebook CommentsShowHide
Disqus CommentsLoadHide
Diberdayakan oleh Blogger.