Penerapan PHBS di Sekolah Sejak Dini

PHBS di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat.
Oleh : Gracia V. Souisa, Ivy V. Lawalata, Samuel Titaley
Dosen Fakultas Kesehatan, Universitas Kristen Indonesia Maluku

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) mempengaruhi status kesehatan individu, sehingga penting untuk diterapkan dalam kehidupan setiap hari.

PHBS di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat.

Dalam UU No 36 tahun 2009 pasal 79 tentang Kesehatan, ditegaskan bahwa “Kesehatan Sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan setinggi – tingginya sehingga diharapkan dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

Beberapa indikator PHBS di sekolah antara lain mencuci tangan dengan air yang mengalir dan memakai sabun, mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah, menggunakan jamban yang bersih dan sehat, olahraga yang teratur dan terukur, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di sekolah, menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan, dan membuang sampah pada tempatnya.

Anak – anak merupakan generasi penerus bangsa yang penting untuk diperhatikan kesehatannya dan juga termasuk dalam kelompok yang rentan dengan berbagai gangguan kesehatan dan sangat bergantung kepada orang tua.

Anak – anak sangat potensial untuk dipengaruhi dan diberi motivasi sehingga membiasakan sejak dini perilaku hidup bersih dan sehat. Perilaku orang dewasa tidak mudah untuk diubah, namun perilaku anak sangat mungkin untuk diubah dengan memberikan pengetahuan dan contoh.

Dampak kurangnya penerapan PHBS tatanan sekolah berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar siswa yang tidak mencuci tangan dengan air mengalir dan memakai sabun sebelum dan sesudah jajan, karena malas dan kebiasaan, sehingga gampang terserang penyakit seperti diare, kecacingan dan gangguan pencernaan.

Selain itu, banyak penelitian yang mendukung anak sekolah sebagai agen pembawa pesan kesehatan. Hal ini karena, mereka memiliki potensi untuk menyebarkan pesan kesehatan kepada anak yang lain, anggota keluarga dan masyarakat sekitar.

Pendekatan ini telah diadopsi pada beberapa negara berkembang untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kesehatan. Dalam jangka panjang, implementasi intervensi berbasis sekolah akan menjadi fondasi perubahan perilaku kesehatan (Lifelong healthy behaviors) yang tidak hanya akan bermanfaat pada generasi ini namun juga generasi akan datang.

Pengetahuan merupakan salah satu faktor pembentuk perilaku. Tinggi rendahnya pengetahuan dapat dipengaruhi oleh proses belajar dan lingkungan. Pengetahuan akan konsep hidup bersih dan sehat berdampak pada perilaku individu dan mempengaruhi status kesehatan individu.

Hasil Penelitian menunjukan ada hubungan positif antara pengetahuan PHBS dengan pola hidup sehat siswa siswi. Penelitian lainnya di SDN Palembang, juga menunjukan ada hubungan antara tingkat pengetahuan siswa dengan  penerapan PHBS dengan OR 7,917 yang artinya siswa yang memiliki pengetahuan baik berpeluang 7,9 kali mampu menerapkan PHBS dibandingkan dengan siswa yang memiliki pengetahuan kurang.

Untuk meningkatkan kesadaran pendidik dan peserta didik tentang PHBS maka dapat dilakukan sosialisasi, praktek massal dan pendampingan guru dengan harapan memotivasi anak untuk membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini.

Penyuluhan PHBS di SDN Hatu
Salah satu indikator untuk memonitor kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat adalah mikroskopik kecacingan pada anak. Kecacingan merupakan  salah satu penyakit yang berbasis lingkungan sehingga perhatian terhadap sanitasi lingkungan perlu ditingkatkan.

Sekolah Dasar Negeri 1 dan Negeri 2 Desa Hatu, menjadi mitra Program Kemitraan Masyarakat (PKM), Fakultas Kesehatan UKIM, yang dipilih oleh tim pelaksana berdasarkan hasil diskusi dan observasi langsung dengan mitra. Beberapa pendekatan yang digunakan tim untuk membudayakan perilaku bersih dan sehat di sekolah adalah:

1. Pendampingan melalui focus discussion group (FGD) kepada pendidik sehingga penerapan PHBS dapat terus berlangsung/ berkelanjutan. Dalam kegiatan FGD, dapat dihasilkan program PHBS berbasis sekolah, pengelolaan sekolah sehat (PHBS, jamban sehat, kantin sehat) dan pedoman teknis penerapan PHBS. Luaran yang diharapkan dari FGD adalah dihasilkannya program kerja dan pedoman penyelenggaraan/ penerapan PHBS di sekolah.

2. Menggunakan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yaitu mencuci tangan dengan air yang mengalir dan memakai sabun, mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah, menggunakan jamban yang bersih dan sehat, olahraga yang teratur dan terukur, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di sekolah, menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan, dan membuang sampah pada tempatnya.

Kegiatan penyuluhan bertujuan untuk memberi pengetahuan dan pemahaman  tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) khususnya pada tatanan sekolah, sehingga peserta didik dapat membiasakan hidup bersih dan sehat sejak dini.

Untuk memudahkan pemahaman peserta didik, dapat menggunakan leaflet/ brosur yang berisi materi tentang   PHBS tatanan sekolah. Selain itu juga digunakan lembar pretest dan posttest yang berisi pertanyaan tentang PHBS tatanan sekolah, untuk menilai tingkat pengetahuan peserta didik.


3. Praktek massal mencuci tangan, menyikat gigi dan memilah sampah kepada siswa/i. Praktek massal dilakukan dengan tujuan memperkuat pemahaman dan melatih peserta didik untuk langsung mempraktekan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Praktek massal penting dilakukan sehingga peserta didik dapat mengingat materi yang diberikan dengan lebih baik. Kegiatan praktek massal memerlukan sarana (alat dan bahan) seperti sikat gigi, pasta gigi, penampungan air, sabun cuci tangan, tempat sampah dan perlengkapan lainnya.

4. Pendekatan lainnya adalah pemeriksaan mikroskopik kecacingan kepada semua siswa/ i Sekolah Dasar. Pemeriksaan kecacingan dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya infeksi kecacingan pada peserta didik akibat kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Kecacingan menunjukan kurangnya PHBS seperti kesadaran mencuci tangan sebelum makan, sesudah buang air besar, tidak menggunakan alas kaki ketika bermain di luar rumah, dan kebersihan kuku.

Kecacingan dapat menyebabkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan produktivitas, kecacingan pada anak menimbulkan kekurangan gizi yang menetap, dikemudian hari akan menimbulkan dampak pendek menurut umur (Stunting), kurangnya penyerapan nutrisi, anemia, hingga gangguan pertumbuhan pada anak, sehingga penting untuk monitoring kecacingan pada anak.

Untuk memelihara kesehatan dan mencegah kecacingan, dapat dilakukan upaya promosi kesehatan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat melalui program usaha kesehatan sekolah, media cetak maupun elektronik, penyuluhan langsung, bimbingan dan konseling, intervensi perubahan perilaku, dan pelatihan perilaku hidup bersih dan sehat dilakukan melalui cuci tangan pakai sabun, menggunakan air bersih untuk keperluan rumah tangga, menjaga kebersihan dan keamanan makanan, menggunakan jamban sehat, dan mengupayakan kondisi lingkungan yang sehat.

Hasil dari program kemitraan kepada masyarakat bagi pendidik dan peserta didik di SD Negeri 1 dan 2 Hatu antara lain :

(1). Kegiatan penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan sekolah bagi peserta didik di SD Negeri 1 Hatu, pengetahuan siswa semakin meningkat yaitu untuk nilai baik (≥ 70) dari 42 orang (87,5% - pretest) menjadi 45 orang (93,7% - posttest), nilai mean meningkat dari 79,6 menjadi 87,1 dan median meningkat dari 80 menjadi 90.

(2). Kegiatan penyuluhan di SD Negeri 2 Hatu, pengetahuan siswa semakin meningkat yaitu untuk nilai baik (≥ 70) dari 66 orang (86,9% - pretest) menjadi 71 orang (93,5% - posttest). Sedangkan nilai mean meningkat dari 83,6 menjadi 87,5 dan median meningkat dari 85 menjadi 90.

(3). Kegiatan praktek massal yang telah dilaksanakan adalah praktek cuci tangan pakai sabun, menggosok gigi dan memilah sampah sesuai jenisnya;

(4). Kegiatan Focus Discussion Group mendorong pimpinan sekolah dan guru untuk membiasakan PHBS serta menghasilkan buku pedoman penerapan PHBS di sekolah;

(5). Pemeriksaan kecacingan menunjukan bahwa dari 12 sampel feses, ada 5 sampel yang positif telur cacing Ascaris lumbricoides.
Penerapan PHBS di Sekolah Sejak Dini Reviewed by Tribun Maluku on 7/12/2018 Rating: 5
Facebook CommentsShowHide
Disqus CommentsLoadHide
All Rights Reserved by Tribun-Maluku.com | Berita Maluku Terkini © 2014 - 2016
Diberdayakan oleh Blogger.