Close Menu
Tribun Maluku | Berita Maluku Terkini
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Tribun Maluku | Berita Maluku Terkini
    • Indeks Berita
    • Berita Pilihan Redaksi
    • Seputar Maluku
      • Maluku
      • Pertanian
      • Politik
      • Pemerintahan
      • Pendidikan
      • Kesehatan
      • Ekonomi
      • Seni dan Budaya
      • Olahraga
      • Opini
      • Artikel
    • Lintas Daerah
      • Ambon
      • Maluku Tengah
      • Aru
      • Buru
      • Buru Selatan
      • Seram Bagian Barat
      • Seram Bagian Timur
      • Maluku Barat Daya
      • Maluku Tenggara Barat
    • Tual
    • Maluku Tenggara
    • Redaksi
    • Hubungi Kami
    • Hak Jawab
    Tribun Maluku | Berita Maluku Terkini
    Home » Ekonomi » DPW KBPUM Maluku Soroti Pemotongan TKD: Kebijakan Pusat Dinilai Belum Berpihak pada Provinsi Kepulauan

    DPW KBPUM Maluku Soroti Pemotongan TKD: Kebijakan Pusat Dinilai Belum Berpihak pada Provinsi Kepulauan

    Pewarta Daud Rumalatu22 November 2025
    Ismail

    Ambon , Tribun Maluku. Dewan Pimpinan Wilayah Keluarga Besar Pelaku Usaha Muslim (DPW KBPUM) Provinsi Maluku menggelar dialog Bacarita Maluku bertema “Urgensi Pemotongan Dana Transfer Daerah (TKD) dan Dampak Terhadap Pembangunan Daerah Maluku,” Rabu (19/11/2025).

    Dalam dialog tersebut, Ketua DPW KBPUM Maluku, Ismail M. Lussy, menilai kebijakan pemerintah pusat hingga kini belum sepenuhnya berpihak pada karakter kepulauan Maluku.

    Dalam sambutannya, Ismail menjelaskan bahwa Maluku memiliki kondisi geografis yang unik, dengan 92,4 persen wilayah berupa laut dan hanya 7,6 persen daratan.

    Menurut dia, fakta tersebut seharusnya menjadikan Maluku sebagai model pembangunan berbasis kepulauan (archipelagic-based development). Namun, kebijakan pemerintah pusat dinilai masih berorientasi daratan sehingga mengabaikan kebutuhan strategis masyarakat di wilayah kepulauan.

    Ismail mengungkapkan, formula alokasi anggaran nasional belum mencerminkan tantangan logistik dan pelayanan publik di Maluku. Infrastruktur dasar membutuhkan biaya jauh lebih besar akibat lokasi permukiman yang tersebar di banyak pulau.

    Ketimpangan itu berdampak pada lambatnya pembangunan konektivitas antar-pulau, tingginya harga bahan pokok, serta ketidakmerataan layanan kesehatan dan pendidikan di pulau-pulau kecil.

    Selain soal anggaran, Ismail juga menyoroti kebijakan transportasi nasional yang lebih memprioritaskan pembangunan jalan tol dan kereta api, dua moda transportasi yang tidak relevan bagi provinsi kepulauan.

    Ia menilai, pemerintah pusat kurang memberikan perhatian pada pembangunan pelabuhan, armada penyeberangan, dan jaringan transportasi laut reguler yang menjadi tulang punggung mobilitas warga Maluku.

    “Kondisi ini membuat banyak wilayah masih terisolasi dan sangat bergantung pada cuaca, sementara kapal yang beroperasi sering kali tidak layak,” ujar Ismail.

    Ismail menambahkan bahwa Maluku memiliki potensi ekonomi kelautan yang besar, mulai dari perikanan hingga industri maritim. Namun, kebijakan pusat dianggap masih berhenti pada tataran wacana. Sentra perikanan, fasilitas cold storage, hingga industri hilir belum berkembang merata.

    “Paradigma pembangunan nasional masih menjadikan provinsi daratan sebagai pusat ekonomi. Wilayah kepulauan tetap berada di pinggiran,” katanya.

    Ismail juga menyoroti belum terealisasinya RUU Daerah Kepulauan yang dinilai penting untuk memberikan afirmasi fiskal dan kewenangan khusus bagi daerah dengan karakter geografis unik seperti Maluku. Ketiadaan regulasi khusus menyebabkan Maluku terus menghadapi ketimpangan struktural yang sulit diatasi.

    Menutup sambutan, Ismail menegaskan perlunya perubahan cara pandang pemerintah pusat dalam merancang kebijakan pembangunan untuk Maluku.

    Ia menilai percepatan pembangunan hanya dapat terjadi jika pemerintah menempatkan Maluku sebagai bagian penting dari poros maritim Indonesia.

    “Ketika kebijakan disesuaikan dengan fakta bahwa 92,4 persen wilayah Maluku adalah laut, barulah provinsi ini dapat berkembang sebagai daerah kepulauan yang berdaya saing, sejahtera, dan saling terhubung,” ujar Ismail.

     

     

    Bagikan Facebook Twitter WhatsApp Telegram Email Copy Link
    Berita SebelumnyaAfifudin: Fraksi Nurani Pembangunan Siap Kawal Pinjaman Daerah Rp1,5 Triliun
    Berita Selanjutnya Ketua DPRD Maluku Soroti Lemahnya Setoran Pendapatan BUMD dan Pengelolaan Pasar Mardika

    Berita Terkait

    Forum

    BPS Maluku Gelar Forum Konsultasi Publik

    Kamar

    Perkembangan Pariwisata di Maluku Pada September 2025

    Foto Expor

    Ekspor Maluku Capai US$5,22 Juta, Pada September 2025

    Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, SE., M.Si.

    IPM Maluku Naik 0,69 Poin atau 0,94 Persen Tahun 2025

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, SE., M.Si.

    Keadaan Ketenagakerjaan Di Maluku Pada Agustus 2025

    IMG20251117103249

    LPS Gandeng Media Berikan Pencerahan Pastikan Dana Nasabah Aman Di Bank

    Tambahkan komentar
    Tinggalkan Balasan

    Ikuti Kami
    • Facebook 9.606
    • Twitter 2.691
    • Instagram 972
    • YouTube 354
    • LinkedIn 97
    • Telegram 583
    • WhatsApp
    Berita lainnya

    Akibat Ulah Sekelompok Orang Tak Dikenal, Warga Mangga Dua Mengungsi

    Bapeda SBB Lakukan Gemar Sapa Di Desa Iha-Luhu

    Tribun Maluku | Berita Maluku Terkini
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube WhatsApp Telegram LinkedIn Pinterest
    • Redaksi
    • Hubungi Kami
    • Ketentuan Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • UU Pers dan Pedoman Media Siber
    • Hak Jawab
    © 2025 Tribun Maluku

    Ketik diatas dan tekan Enter untuk mencari. tekanEsc untuk membatalkan.