Ambon,Tribun Maluku : Pendidikan merupakan hak dasar setiap anak dan menjadi fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.
Namun, di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), tantangan geografis, sosial, dan ekonomi menyebabkan banyak anak usia sekolah tidak dapat melanjutkan pendidikan mereka.
Wilayah MBD terdiri dari pulau-pulau kecil yang tersebar, dengan akses transportasi yang terbatas dan fasilitas pendidikan yang belum merata. Akibatnya, anak-anak di daerah terpencil sering kali terpaksa berhenti sekolah karena jarak, biaya, atau kurangnya dukungan lingkungan.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) MBD Roberth Japeky kepada media ini Kamis (16/10/2025).
Dijelaskan Japeky Fenomena anak putus sekolah di Kabupaten Maluku Barat Daya masih masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan sumber daya manusia. Faktor geografis yang terpencil, keterbatasan akses pendidikan, kondisi ekonomi keluarga, serta minimnya keterlibatan berbagai pihak dalam penanganan masalah ini memperparah situasi.
“Data dari Dinas Pendidikan menunjukkan bahwa angka anak putus sekolah di beberapa kecamatan seperti Moa, Wetar, Romang, Damer, Babar, Marsela, Dawelor Dawera masih cukup tinggi, ” ujarnya.
Kondisi ini lanjut Japeky diperparah oleh minimnya keterlibatan lintas sektor dalam penanganan masalah pendidikan. Upaya pemerintah daerah selama ini belum cukup efektif karena pendekatan yang bersifat sektoral dan belum melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Oleh karena itu, diperlukan strategi baru yang bersifat kolaboratif dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, pendekatan kolaboratif berbasis Pentahelix menjadi sangat relevan, ” bebernya.
Diuraikan Japeky, berdasarkan analisis ASTRID model maka dapat disimpulkan isu strategis terpilih adalah Belum optimalnya penganan anak putus sekolah di Kabupaten Maluku Barat Daya dan hasil analisis diagnosa organisasi menggunakan STAR model, intervensi yang dilakukan pada komponen strategis yaitu Perlunya kolaborasi unsur pentahelik dalam penanganan anak putus sekolah.
Masalah pendidikan di Kabupaten Maluku Barat Daya masih menghadapi tantangan serius,dengan masih banyaknya anak putus sekolah.
“Sekarang ini berdasarkan data dapodik jumlah anak putus sekolah di kabupaten MBD sebanyak 485 anak, ” bebernya.
Untuk mengatasi hal ini, Disdik MBD menerapkan strategi difokuskan melalui kolaborasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi ini melibatkan pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi dan media massa. Pendekatan kolaboratif ini, bertujuan untuk menangani anak putus sekolah di Kabupaten Maluku Barat Daya.
Semua ini lanjutnya terangkum dalam tahapan pencapaian target jangka pendek dilakukan beberapa hal. Pertama, memperkuat kolaborasi Pentahelik untuk menciptakan kebijakan dan program yang bertujuan mengatasi masalah anak putus sekolah,Kedua, SK Bupati tentang Strategi Mengatasi Anak Putus Sekolah. Ketiga, terlaksananya MoU serta implementasinya di dua kecamatan.
Strategi Mengatasi Anak Putus Sekolah ini didasarkan pada kolaborasi dengan berbagai lembaga, sektor, maupun stakeholders lainnya, diwujudkan dalam penyusunan Rancangan Peraturan Bupati tentang Strategi Mengatasi Anak Putus Sekolah.
Meningkatkan jumlah lokus dan pemberian reward merupakan rencana jangka menengahnya. Penyusunan Rancangan Peraturan Bupati berlangsung secara berkelanjutan dalam 12 bulan ke depan, wujud dari proyek ini dalam capaian jangka panjangnya.
“Strategi ini diharapkan memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengatasi permasalahan penanggulangan Anak Putus Skolah di Kabupaten Maluku Barat Daya, ” ujarnya.
Hal tersebut bertujuan Sehingga potensi kendala, risiko, dan penyelesaian harus diantisipasi untuk meminimalisir kegagalan terlaksananya Proyek Perubahan ini.
Salah satu kunci keberhasilan Proyek Perubahan ini ujarnya adalah meningkatkan pemahaman tentang proyek perubahan, melakukan upaya koordinasi dan komunikasi sehingga semua kegiatan dapat berjalan dengan baik, serta diikuti dengan optimalisasi kinerja Tim Efektif.
“Strategi ini sudah mulai menunjukan perkembangan yang baik khususnya di desa Toinwawan. Dimana didesa ini beberapa anak putus sekolah mulai kembali bersekolah. Dan Kami optimis kedepannya kami dapat menggerakkan lebih banyak lagi anak anak yang putus sekolah untuk kembali bersekolah, ” demikian Japeky.






